Skip to content

KAJIAN SEMIOTIKA BODY LANGUAGE DALAM IKLAN SIMPATI

4 Mei 2009

KAJIAN SEMIOTIKA BODY LANGUAGE

DALAM IKLAN SIMPATI

VERSI 13 TAHUN

m13_01

By freddy yusanto

TEORI nya

Body Language / Bahasa tubuh merupakan istilah yg berhubungan dengan gerak tubuh atau bisa juga berhubungan dengan suara, bahasa verbal atau komunikasi lainnya. Bahasa tubuh merupakan bagian dari kategori paralanguage yang menunjukkan semua bentuk komunikasi yang bukan merupak bahasa verbal. Meliputi hal hal yang kadang tidak disadari, seperti posture, body movement, orientation dan accesories.

Gesture adalah bentuk dari komunikasi non verbal yg dihasilkan oleh bagian tubuh manusia (terutama wajah, bahu dan tangan) yang kemudian dapat dikombinasikan dengan komunikasi verbal. Dengan gerak ini, manusia dapat mengekpresikan bermacam perasaan dan pemikiran. Banyak orang tanpa disadari menggunakan bahasa tubuh saat berbicara. Penggunaan bahasa tubuh dalam beberapa etnis dianggap lebih umum daripada bahasa itu sendiri. Bahasa tubuh berhubungan erat dengan expresi wajah (facial expression).

Facial expression merupakan hasil dari gerakan / posisi wajah. Gerakan tersebut menggambarkan emosi seseorang. Expresi wajah adalah bentuk dari komunikasi non verbal yang dipakai sebagai alat utama dalam menyampaikan informasi sosial antar sesama manusia, bahkan antar mamalia dan spesies lain.

Mitos Angka 13 dianggap angka yang membawa kekurang-beruntungan. Sebenarnya, kepecayaan tahayul dan aneka mitos yang ada berasal dari pengetahuan kuno bernama Kabbalah. Kabalah merupakan sebuah ajaran mistis kuno, yang telah dirapalkan oleh Dewan Penyihir tertinggi rezim Fir’aun yang kemudian diteruskan oleh para penyihir, pesulap, peramal, paranormal, dan sebagainya—terlebih oleh kaum Zionis-Yahudi yang kemudian mengangkatnya menjadi satu gerakan politis.

Bangsa Yahudi sejak dahulu merupakan kaum yang secara ketat memelihara Kabbalah. Di Marseilles, Perancis Selatan, bangsa Yahudi ini membukukan ajaran Kabbalah yang sebelumnya hanya diturunkan lewat lisan dan secara sembunyi-sembunyi. Mereka juga dikenal sebagai kaum yang gemar mengutak-atik angka-angka (numerologi), sehingga mereka dikenal pula sebagai sebagai kaum Geometrian.

Menurut mereka, angka 13 merupakan salah satu angka suci yang mengandung berbagai daya magis dan sisi religius, bersama-sama dengan angka 11 dan 666. Sebab itu, dalam berbagai simbol terkait Kabbalisme, mereka selalu menyusupkan unsur angka 13 ke dalamnya. Kartu Tarot misalnya, itu jumlahnya 13. Juga Kartu Remi, jumlahnya 13 (As, 2-9, Jack, Queen, King).

Kaum Kabbalis sangat mengagungkan angka 13, selain tentu saja angka-angka lainnya seperti angka 11 dan 666. Angka ini dipakai dalam berbagai ritual setan mereka. Bahkan simbol Baphomet atau Kepala Kambing Mendez (Mendez Goat) pun dihiasi simbol 13. Itulah sebabnya angka 13 dianggap sebagai angka sial karena menjadi bagian utama dari ritual setan

Kode menurut Piliang (1998:17), adalah cara pengkombinasian tanda yang disepakati secara sosial, untuk memungkinkan satu pesan disampaikan dari seseorang ke orang lainnya. Di dalam praktik bahasa, sebuah pesan yang dikirim kepada penerima pesan diatur melalui seperangkat konvensi atau kode. Umberto Eco menyebut kode sebagai aturan yang menjadikan tanda sebagai tampilan yang konkret dalam sistem komunikasi. (Eco, 1979:9).

Roland Barthes dalam bukunya S/Z mengelompokkan kode-kode tersebut menjadi lima kisi-kisi kode, yakni kode hermeneutik, kode semantik, kode simbolik, kode narasi, dan kode kultural atau kode kebudayaan (Barthes, 1974:106).

1. Kode Hermeneutic

Yaitu segala hal yg berhubungan dgn berbagai macam pengartikulasian pertanyaan, responnya, dan berbagai bentuk peristiwa yang bisa memformulasikan pertanyaan dan juga menunda jawaban; atau bahkan mengangkat suatu enigma dan mencari solusinya.cKode ini merupakan kode “cerita”, dimana cerita ini menimbulkan pertanyaan, ketegangan dan misteri, dan semua prosesnya harus terlalui sepanjang ceritanya demi terpecahkannya semua pertanyaan.

2. Kode Semiotik

Yaitu kode konotasi yang menggunakan isyarat atau “ kedipan makna” yang ditandai oleh adanya sinyal sinyal tertentu atau bisa dikatakan sebagai kode yang mengandung konotasi pada level penanda. Contohnya feminitas, maskulinitas (tanda yang ditata sedemikian rupa sehingga memberikan suatu konotasi yang feminim atau maskulin)

3. Kode Simbolis

Kode ini dikenal sebagai “kelompok (grouping) atau konfigurasi”, yang secara teratur terulang dalam berbagai mode dan bermacam cara dalam text, yang secara jelas menurunkan figur dominannya.

4. Kode Proaretis

Yaitu kode action. Didapat dari kode Proairesis, adalah kemampuan rasional untuk menentukan hasil cerita, kode ini juga ditambahkan secara berurutan.

5. Kode Kultural/ Kode referensi

Kode ini dikenal sebagai sesuatu yang kolektif, anonim, dan suara otoritatif yang menyuarakan dan bertujuan untuk membangun pengetahuan yang bisa diterima atau sebagai suatu kebijaksanaan.

ANALISA SEMIOTIKA nya

IKLAN SIMPATI VERSI 13 TAHUN

Adegan 1

m13_02

Visualisasi : Terlihat selembar tiket bioskop yang sedang dipegang oleh Indra, dengan penekanan pada angka 13, lalu cut to ke ekspresi kaget Indra Bekti dan diakhiri dengan ekspresi ketakutan Indra

Musik : Tegang, menakutkan …

Adegan 2

m13_03

Visualisasi : Tiba-tiba muncul seorang wanita cantik yang duduk di sebelah kiri Indra, terlihat ekspresi Indra yang kaget bercampur senang. Kemudian muncul lagi seorang wanita cantik yang kemudian duduk di sebelah kanannya, Terlihat ekspresi Indra sangat gembira dengan mengerlingkan matanya ke pemirsa

Musik : berubah menjadi dinamis, ceria

Narasi : ternyata 13 itu nyenengin !!

Adegan 3

m13_04

Visualisasi : Muncul teks di layar lebar tentang promo telkomsel, lalu diikuti oleh logo Telkomsel dengan indeks angka 13 yang menjelaskan tentang ulang tahun telkomsel yang ke 13. Adegan ini diakhiri dengan ketakutan dua wanita yang duduk di sebelah Indra yang melihat adegan seram di layar lebar dan melakukan gerakan reflek memeluk Indra. Terlihat ekspresi Indra kaget bercampur senang.

Musik : berubah lebih dinamis diakhiri ID sound simpati diakhiri dengan Efek suara yang mengejutkan

Narasi : di simpati, nelpon sampai menit ke 13 … tetep ½ rupiah perdetik…pake terus dong simpatinya

Sebelum saya membahas tentang body language pada iklan di atas, terlebih dahulu akan membahas tentang kode narasi yang terdapat dalam iklan tersebut. Kode narasi yaitu kode yang mengandung cerita, urutan, aksi, atau anti narasi. Dalam iklan ini, kode narasi terlihat pada kandungan cerita tentang bagaimana angka 13 di dekontruksi maknanya menjadi sebuah angka yang menyenangkan dan menguntungkan.

Selain kode narasi, terdapat kode simbolik terlihat pada adegan 1 frame ke 3, dimana terlihat angka 13 pada kursi sebagai background dari obyek Indra Bekti yang terlihat menunjukkan ekspresi (expressive gesture) ketakutan. Angka 13 sebagai simbol dari mitos sebuah angka ‘horor’ memperkuat ekspresi ketegangan Indra Bekti. Element visual tersebut masih diperkuat dengan ilustrasi musik yang menegangkan, sehingga lebih memberikan penekakan pada suasana yang menakutkan. Suasana ini, kemudian berubah pada adegan 2 dimana eksspresive gesture ketakutan Indra Bekti sangat tidak terbukti. Kedatangan 2 orang wanita yang duduk disampingnya menunjukkan indeks sebuah keberuntungan sekaligus kebahagiaan bagi Indra Bekti. Pada ending adegan 2 terlihat eksspresive gesture Indra Bekti berbalik 100% dari ending adegan 1. Disini, angka 13 sebagai simbol angka ‘horor’ telah terdekontruksi oleh ekspresi kebahagiaan yang tidak disangka-sangka oleh Indra Bekti. Hal ini lebih diperkuat lagi dengan narasi ternyata 13 itu nyenengin !!, yang secara eksplisit meruntuhkan mitos angka 13 itu sendiri.

Dalam iklan ini, expressive gesture sangat mendominasi dari keseluruhan body language. Hal ini dapat terlihat pada adegan 1 yang memperlihatkan expressive gesture yang menakutkan serta menegangkan yang dikarenakan kuatnya mitos angka 13. Sedangkan pada adegan 2, expressive gesture kesenangan dan kebahagiaan sangat dominan. Expressive gesture ini sekaligus mematahkan mitos angka 13 sebagai angka sial. Di akhir adegan 2 terlihat Indra Bekti menggunakan eye rolling gesture yaitu mengerlingkan bola matanya sebagai tanda kesenangan yang klimaks. Sehingga ekspresi tersebut lebih memperkuat dalam hal mendekontruksi mitos angka 13.

Pada adegan 3, iklan mulai masuk pada informasi utamanya, dimana pada 2 buah frame pertama, unsur body language tidak terlihat. Pada ending adegan 3, Indra Bekti dipeluk oleh 2 orang wanita sekaligus, adegan ini sekaligus menujukkan sebuah adegan klimak tentang ‘keberuntungan’ Indra bekti ‘berada’ di angka 13 dan berusaha memperkuat sanggahan akan mitos angka ‘sial’ tersebut.

Dari analisis iklan tersebut dapat disimpulkan bahwa tanda bermakna mendekontruksi sebuah mitos yang telah ‘diyakini’ kebenarannya oleh masyarakat umum.

Semoga bisa dijadikan referensi

INGA….jangan kopi paste ya…..he he…oks

peace bro…

JOB DESCRIPTION

3 Mei 2009

JOB DESCRIPTION

Dalam sebuah produksi audio visual

by freddy yusanto

Produser

Produser adalah pemain utama di televisi, film dan video industri. Permulaan ide dari sebuah proyek seringkali datang dari produser dan mereka mengawasi proyek dari perencanaan sampai selesai. Mereka terlibat dalam proses marketing dan distribusi seperti mereka memantau shooting. A producer must has good taste, seorang produser harus mempunyai selera yang baik. Untuk itu seorang produser harus mempunyai wawasan yang luas tentang film, baik teknis maupun non teknis. Produser bekerja sama dengan sutradara dan staf produksi dalam proses shooting dan selalu terlibat di dalamnya.

Job description

Singkatnya, seorang produser dapat membawa sebuah konsep ke dalam layar. Orang yang dapat melakukan semua kemungkinan.

Produser terlibat dalam setiap pertunjukan dalam sebuah program televisi, film atau video, dari awal proyek sampai akhir, baik di studio ataupun di luar studio. Dia adalah team leader yang paling penting dan bergantung pada ukuran proyek dan didukung oleh production assistant, koordinator fasilitas dan unit manager.

Aktifitas khusus meliputi:

  1. Membuat rencana anggaran biaya produksi
  2. Mengembangkan konsep cerita yang akan diproduksi
  3. Mengatur masalah-masalah yang timbul pada saat waktu shooting
  4. Supervisi progress proyek dari produksi dan pasca produksi
  5. Mengelola seluruh sumber daya (SDM, keuangan dsb) dengan baik agar pelaksanaan pembuatan suatu paket produksi dapat berjalan sesuai target
  6. Melakukan koordinasi dengan pihak-pihak yang terkait dengan proses pembuatan paket produksi, intern maupun ekstern
  7. Melakukan negoisasi harga dengan pemain
  8. Mengantarkan sebuah produksi sesuai dengan budget

Director

Visi sutradara adalah membimbing kru-nya dalam mencari lokasi yang tepat, melakukan casting, mendesain set dan lighting serta terlibat dalam proses editing dan dubbing.

Oleh karena itu, hal yang terpenting adalah kemampuan dalam memimpin. Yang meliputi kemampuan dalam bekerjasama dengan banyak orang, pemilihan artistik, mengetahui masalah teknis serta mempunyai kemampuan dalam menangani perubahan-perubahan yang terjadi di lapangan. Sutradara diharapkan dapat bekerja keras di bawah tekanan. Tidak ada latar belakang yang jelas mengenai darimana seorang sutradara mendapatkan ilmunya, beberapa dari mereka memiliki pengalaman dalam bidang produksi, kamera ataupun editing. Tapi yang paling utama adalah mereka harus memiliki pengalaman dalam bidang industri ini.

Aktifitas khusus meliputi:

  1. Merepresentasikan naskah
  2. Brainstorming ide dengan produser dan penulis naskah
  3. Mem-breakdown naskah ke dalam syuting list
  4. Melakukan casting calon pemain
  5. Memimpin crew produksi di lapangan
  6. Bertanggung jawab terhadap proses pengambilan gambar
  7. Mengarahkan para pemain di lapangan
  8. Men-supervisi di bagian editing

Penulis Naskah

Naskah adalah blue print sebuah film, tugas diantaranya:

  1. Melakukan survey dan riset awal suatu cerita
  2. Menulis sebuah naskah film yang akan diproduksi
  3. Melakukan brain-storming naskah dengan produser dan sutradara
  4. Melakukan revisi naskah sesuai dengan hasil brain-storming

Unit Produksi (Production Assistant)

Unit produksi mempunyai peran sebagai kunci dalam menjalankan proses produksi secara baik, membantu produser dalam mengatur proses produksi agar sesuai dengan jadwal serta budget.

Unit produksi menjalankan proses administrasi terhadap produser dan director dan masuk ke dalam semua proses produksi dari pra produksi hingga post produksi.

Job description

Unit Produksi selalu terlibat dalam sebuah program dengan cara mengamati langsung di lapangan sebagai koordinator lapangan dan memastikan semua apa yang terjadi di lapangan.

  1. Mengkoordinir dan mengkomunikasikan persiapan produksi & fasilitas yang dibutuhkan
  2. Melakukan pengurusan hak cipta serta pembayaran royalti
  3. Mengkoordinir perencanaan meeting serta mencatat hasil meeting
  4. Membantu produser menyusun rencana anggaran biaya
  5. Membantu produser menyusun schedule produksi
  6. Mendistribusikan naskah kepada pemain dan kru yang membutuhkan
  7. Mencari dan menghubungi calon pemain
  8. Mengkoordinir akomodasi dan transportasi (bila diperlukan)
  9. Surat menyurat (izin, kerja sama dll)

Kamerawan

Kamerawan dapat mengoperasionalkan kamera dalam setiap kondisi, menghasilkan sebuah gambar sesuai dengan permintaan director dengan menggabungkan antara skill yang dimiliki dengan teknologi. Seorang kamerawan, dibawah komando seorang DOP (Director of Photography)  harus dapat mengasilkan shot terbaiknya.

  • Membaca dan mempelajari naskah film
  • Melakukan persiapan dan setting peralatan kamera, termasuk di dalamnya adalah tripod, monitor, lampu, kabel, headphone
  • Memberikan masukan kepada DOP untuk menghasilkan shot terbaik dalam tiap scene
  • Mempelajari naskah
  • Menemukan solusi teknis bila menemui masalah di lapangan
  • Selalu kreatif dan perhatian terhadap visual yang dihasilkan dari angle-angle shot
  • Selalu siap melakukan inovasi dan melakukan ekperimen dengan berbagai macam ide
  • Interlinking with a range of functions and equipment;
  • Melakukan intruksi dari director maupun DOP
  • Berkoordinasi terus dengan kameraman lain termasuk dengan soundman dan lightingman serta aktor
  • Selalu menjaga hubungan baik dengan asisten kamerawan
  • Bekerja cepat, karena waktu sangat berharga pada saat produksi berjalan
  • Selalu bertanggung jawab dalam situasi apapun yang berhubungan dengan hasil gambar
  • Merencanakan pekerjaan dengan ketelitian. Ketika dalam sebuah scene ada adegan ledakan, maka hanya perencanaan yang matang dan ketelitian yang dapat menghantarkan adegan tersebut dapat menghasilkan gambar yang baik, mengingat adegan seperti ini sangat mahal
  • Selalu mengikuti perkembangan teknis kamera dan peralatan lainnya

Pencatat Adegan & Kleper

  • Membaca dan mempelajari naskah film
  • Mencatat semua perekaman gambar di lapangan baik melalui VTR maupun Docking kamera berdasarkan form yang sudah dibuat
  • Form script berisi No, Kaset, Scene, Shoot, Take, Timecode, Keterangan
  • Membuat pencatatan ulang agar mudah dibaca oleh editor
  • Memberikan label pada master shooting, nomor kaset sesuai dengan pencatatan

Lightingman

  • Membaca dan mempelajari naskah film
  • Chief Lighting mengikuti pra produksi agar mengetahui konsep setiap scene dan look secara keseluruhan film
  • Melakukan perhitungan kebutuhan lampu untuk setiap produksi
  • Mengatur setting lampu sesuai dengan permintaan sutradara di lapangan
  • Berusaha untuk mengatasi masalah pencahayaan di lapangan dengan berbagai cara untuk menghasilkan tata cahaya yang diinginkan
  • Melihat kebutuhan listrik dan mencari titik listrik pada setiap setting
  • Jika harus menggunakan genset, maka order kebutuhan daya setting untuk kebutuhan lampu

Art & Property

  • Membaca dan mempelajari naskah film
  • Membreakdown naskah berdasarkan kebutuhan art dan property pada setiap scene
  • Menyiapkan property pada saat shooting

Soundman

  • Membaca dan mempelajari naskah film
  • Mempersiapkan jenis microphone
  • Melakukan perekaman pada saat shooting
  • Memantau kualitas sound pada saat shooting

PU

  • Membantu mempersiapkan kebutuhan kru (menyiapkan makan, minum, dll)
  • Membersihkan tempat shooting setelah selesai

Apakah Anda harus hafal semua deskripsi tugas di atas? Anda tidak harus hafal tetapi Anda harus tahu tugas masing-masing kru agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berakibat fatal.

Semoga bermanfaat….. Wass…

(dari berbagai sumber)

SUDUT PENGAMBILAN GAMBAR

3 Mei 2009

SUDUT PENGAMBILAN GAMBAR (CAMERA ANGLE)

By freddy yusanto

Camera angle adalah sudut dimana kamera mengambil gambar suatu obyek, pemandangan atau adegan. Dengan sudut tertentu kita bisa menghasilkan suatu shot yang menarik, dengan perspektif yang unik dan menciptakan kesan tertentu pada adegan yang sedang kita tayangkan.

1. NORMAL ANGLE

normal-angle

Pada posisi normal angle, kamera ditempatkan kira–kira setinggi mata obyek. Tentu saja normal angle sangat tergantung pada tinggi obyek yang di-shooting. Bila kita merekam sekelompok anak kecil yang sedang bermain, normal angle untuk orang dewasa terlalu tinggi, maka kamera harus diturunkan supaya setinggi mata anak–anak.

  1. HIGH ANGLE

high-angle

Posisi kamera lebih tinggi di atas mata, sehingga kamera harus menunduk untuk mengambil obyeknya. High Camera Angle sangat berguna untuk mempertunjukkan keseluruhan set beserta obyek–obyeknya. Dengan High Camera Angle bisa diciptakan kesan obyek nampak kecil, rendah, hina, perasaan kesepian, kurang gairah ataupun kehilangan dominasi.

  1. LOW ANGLE

Posisi kamera di bawah ketinggian mata obyek, sehingga kamera harus mendongkak untuk merekam obyek. Dengan Low Camera Angle cenderung menambah ukuran tinggi objek serta memberikan kesan kuat, dominan dan dinamis.

TYPE TYPE ANGLE KAMERA

  1. Angle Kamera Obyektif

Kamera ini melakukan pengambilan gambar mewakili pandangan penonton. Penonton menyaksikan peristiwa yang dilihatnya melalui mata pengamat yang tersembunyi. Angle kamera ini tidak mewakili pandangan siapapun dalam film, kecuali pandangan penonton atau netral. Aktor seolah-olah tidak menyadari keberadaan kamera dan tidak pernah memandang kamera. Jangan pernah seorang pemain melihat ataupun melirik ke lensa, bila itu terjadi, maka adegan tersebut harus diulang. Sebagian besar adegan film disajikan dari angle kamera yang obyektif.

  1. Angle Kamera Subyektif

Kamera subyektif merekam film dari titik pandang seseorang. Penonton ikut berpartisispasi dalam peristiwa yang disaksikannya sebagai pengalaman pribadinya. Penonton ditempatkan ke dalam film baik dia sendiri sebagai peserta aktif, atau bergantian tempat dengan seorang pemain dalam film dan menyaksikan kejadian yang berlangsung melalui matanya. Penonton juga dilibatkan dalam film, yaitu ketika seorang pelaku dalam adegan memandang ke lensa, maka terlihat penonton diajak berinteraksi dengan pelaku. Contoh: presenter, VJ.

  1. Angle Kamera Point of View

Angle ini merekam adegan dari titik pandang pemain tertentu. Point of View adalah objective angle, tapi karena ia berada antara obyektif dan subyektif, maka angle ini harus ditempatkan pada obyek yang terpisah dan diberikan pertimbangan khusus.

GERAK KAMERA (CAMERA MOVE)

PAN , PANNING

Pan adalah gerakan kamera secara horisontal (mendatar). Ada 2 jenis gerakan Pan: gerak ke kanan (Pan Right) dan gerak ke kiri (Pan Left).

Gerakan Pan dilakukan biasanya untuk:

~ Menunjukkan gerak obyek (orang yang berjalan)

~ Mempertunjukkan suatu pemandangan yang luas secara menyeluruh

Gerakan Pan secara perlahan menimbulkan perasaan menanti dalam hati penonton. Kadang–kadang panning cepat (Swish Pan) dilakukan untuk menghubungkan dua peristiwa yang terjadi di dua tempat. Jangan melakukan panning tanpa maksud tertentu. Sebelum melakukan panning hendaknya terlebih dahulu menentukan titik awal dan titik akhir dari shoot (adegan) yang akan direkam. Apabila kita mengikuti gerak seseorang yang sedang berjalan (Follow Camera) berilah ruang kosong di depannya, yang disebut leading space.

TILT, TILTING

Tilting adalah gerakan kamera secara vertikal, mendongkak dari bawah ke atas atau sebaliknya. Jenis gerakan Tilt: Tilt Up (mendongkak ke atas) dan Tilt Down (menunduk ke bawah).

Gerakan Tilt dilakukan:

~ Untuk mengikuti gerak obyek (peluncuran roket – dsb)

~ Untuk menciptakan efek dramatis, mempertajam situasi. Seperti halnya dengan gerak panning, tentukan dulu titik awal dan titik akhir shot.

DOLLY, TRACK

Dolly atau track adalah gerakan kamera di atas tripod dan dolly mendekati atau menjauhi objek. Jenis gerakan dolly: Dolly In (mendekati obyek) dan Dolly Out (menjauhi obyek).

PEDESTAL

Gerakan kamera diatas pedestal: Pedestal Up (kamera dinaikkan) dan Pedestal Down (kamera diturunkan).

Dengan pedestal up/down bisa menghasilkan perubahan perspektif visual dari pemandangan.

CRAB

Crab merupakan gerakan kamera secara lateral atau menyamping, berjalan sejajar dengan obyek yang sedang bergerak. Dua macam gerakan crab: Crab left (ke kiri) dan Crab right (ke kanan).

CRANE

Adalah gerakan kamera di atas katrol naik atau turun.

ARC

Arc adalah gerakan kamera memutar mengitari objek dari kiri ke kanan atau sebaliknya.

GERAKAN LENSA ZOOM

Zooming adalah gerakan lensa mendekati atau menjauhi obyek secara optik, dengan mengubah panjang fokal lensa dari sudut pandangan sempit (telephoto) ke sudut lebar (wide angle) atau sebaliknya. Dua jenis zoom: Zoom in (mendekati obyek, dari Long Shot ke Close Up) serta Zoom Out (menjauhi obyek, dari Close Up ke Long Shot).

RACK FOCUS

Rack focus adalah mengubah fokus lensa dari obyek latar belakang ke obyek di latar depan, atau sebaliknya, untuk mengalihkan perhatian penonton dari satu obyek ke obyek lainnya.

Kalo ada yang mau nambahin…sok atuh…Wass