Skip to content

KAJIAN SEMIOTIKA BODY LANGUAGE DALAM IKLAN SIMPATI

4 Mei 2009

KAJIAN SEMIOTIKA BODY LANGUAGE

DALAM IKLAN SIMPATI

VERSI 13 TAHUN

m13_01

By freddy yusanto

TEORI nya

Body Language / Bahasa tubuh merupakan istilah yg berhubungan dengan gerak tubuh atau bisa juga berhubungan dengan suara, bahasa verbal atau komunikasi lainnya. Bahasa tubuh merupakan bagian dari kategori paralanguage yang menunjukkan semua bentuk komunikasi yang bukan merupak bahasa verbal. Meliputi hal hal yang kadang tidak disadari, seperti posture, body movement, orientation dan accesories.

Gesture adalah bentuk dari komunikasi non verbal yg dihasilkan oleh bagian tubuh manusia (terutama wajah, bahu dan tangan) yang kemudian dapat dikombinasikan dengan komunikasi verbal. Dengan gerak ini, manusia dapat mengekpresikan bermacam perasaan dan pemikiran. Banyak orang tanpa disadari menggunakan bahasa tubuh saat berbicara. Penggunaan bahasa tubuh dalam beberapa etnis dianggap lebih umum daripada bahasa itu sendiri. Bahasa tubuh berhubungan erat dengan expresi wajah (facial expression).

Facial expression merupakan hasil dari gerakan / posisi wajah. Gerakan tersebut menggambarkan emosi seseorang. Expresi wajah adalah bentuk dari komunikasi non verbal yang dipakai sebagai alat utama dalam menyampaikan informasi sosial antar sesama manusia, bahkan antar mamalia dan spesies lain.

Mitos Angka 13 dianggap angka yang membawa kekurang-beruntungan. Sebenarnya, kepecayaan tahayul dan aneka mitos yang ada berasal dari pengetahuan kuno bernama Kabbalah. Kabalah merupakan sebuah ajaran mistis kuno, yang telah dirapalkan oleh Dewan Penyihir tertinggi rezim Fir’aun yang kemudian diteruskan oleh para penyihir, pesulap, peramal, paranormal, dan sebagainya—terlebih oleh kaum Zionis-Yahudi yang kemudian mengangkatnya menjadi satu gerakan politis.

Bangsa Yahudi sejak dahulu merupakan kaum yang secara ketat memelihara Kabbalah. Di Marseilles, Perancis Selatan, bangsa Yahudi ini membukukan ajaran Kabbalah yang sebelumnya hanya diturunkan lewat lisan dan secara sembunyi-sembunyi. Mereka juga dikenal sebagai kaum yang gemar mengutak-atik angka-angka (numerologi), sehingga mereka dikenal pula sebagai sebagai kaum Geometrian.

Menurut mereka, angka 13 merupakan salah satu angka suci yang mengandung berbagai daya magis dan sisi religius, bersama-sama dengan angka 11 dan 666. Sebab itu, dalam berbagai simbol terkait Kabbalisme, mereka selalu menyusupkan unsur angka 13 ke dalamnya. Kartu Tarot misalnya, itu jumlahnya 13. Juga Kartu Remi, jumlahnya 13 (As, 2-9, Jack, Queen, King).

Kaum Kabbalis sangat mengagungkan angka 13, selain tentu saja angka-angka lainnya seperti angka 11 dan 666. Angka ini dipakai dalam berbagai ritual setan mereka. Bahkan simbol Baphomet atau Kepala Kambing Mendez (Mendez Goat) pun dihiasi simbol 13. Itulah sebabnya angka 13 dianggap sebagai angka sial karena menjadi bagian utama dari ritual setan

Kode menurut Piliang (1998:17), adalah cara pengkombinasian tanda yang disepakati secara sosial, untuk memungkinkan satu pesan disampaikan dari seseorang ke orang lainnya. Di dalam praktik bahasa, sebuah pesan yang dikirim kepada penerima pesan diatur melalui seperangkat konvensi atau kode. Umberto Eco menyebut kode sebagai aturan yang menjadikan tanda sebagai tampilan yang konkret dalam sistem komunikasi. (Eco, 1979:9).

Roland Barthes dalam bukunya S/Z mengelompokkan kode-kode tersebut menjadi lima kisi-kisi kode, yakni kode hermeneutik, kode semantik, kode simbolik, kode narasi, dan kode kultural atau kode kebudayaan (Barthes, 1974:106).

1. Kode Hermeneutic

Yaitu segala hal yg berhubungan dgn berbagai macam pengartikulasian pertanyaan, responnya, dan berbagai bentuk peristiwa yang bisa memformulasikan pertanyaan dan juga menunda jawaban; atau bahkan mengangkat suatu enigma dan mencari solusinya.cKode ini merupakan kode “cerita”, dimana cerita ini menimbulkan pertanyaan, ketegangan dan misteri, dan semua prosesnya harus terlalui sepanjang ceritanya demi terpecahkannya semua pertanyaan.

2. Kode Semiotik

Yaitu kode konotasi yang menggunakan isyarat atau “ kedipan makna” yang ditandai oleh adanya sinyal sinyal tertentu atau bisa dikatakan sebagai kode yang mengandung konotasi pada level penanda. Contohnya feminitas, maskulinitas (tanda yang ditata sedemikian rupa sehingga memberikan suatu konotasi yang feminim atau maskulin)

3. Kode Simbolis

Kode ini dikenal sebagai “kelompok (grouping) atau konfigurasi”, yang secara teratur terulang dalam berbagai mode dan bermacam cara dalam text, yang secara jelas menurunkan figur dominannya.

4. Kode Proaretis

Yaitu kode action. Didapat dari kode Proairesis, adalah kemampuan rasional untuk menentukan hasil cerita, kode ini juga ditambahkan secara berurutan.

5. Kode Kultural/ Kode referensi

Kode ini dikenal sebagai sesuatu yang kolektif, anonim, dan suara otoritatif yang menyuarakan dan bertujuan untuk membangun pengetahuan yang bisa diterima atau sebagai suatu kebijaksanaan.

ANALISA SEMIOTIKA nya

IKLAN SIMPATI VERSI 13 TAHUN

Adegan 1

m13_02

Visualisasi : Terlihat selembar tiket bioskop yang sedang dipegang oleh Indra, dengan penekanan pada angka 13, lalu cut to ke ekspresi kaget Indra Bekti dan diakhiri dengan ekspresi ketakutan Indra

Musik : Tegang, menakutkan …

Adegan 2

m13_03

Visualisasi : Tiba-tiba muncul seorang wanita cantik yang duduk di sebelah kiri Indra, terlihat ekspresi Indra yang kaget bercampur senang. Kemudian muncul lagi seorang wanita cantik yang kemudian duduk di sebelah kanannya, Terlihat ekspresi Indra sangat gembira dengan mengerlingkan matanya ke pemirsa

Musik : berubah menjadi dinamis, ceria

Narasi : ternyata 13 itu nyenengin !!

Adegan 3

m13_04

Visualisasi : Muncul teks di layar lebar tentang promo telkomsel, lalu diikuti oleh logo Telkomsel dengan indeks angka 13 yang menjelaskan tentang ulang tahun telkomsel yang ke 13. Adegan ini diakhiri dengan ketakutan dua wanita yang duduk di sebelah Indra yang melihat adegan seram di layar lebar dan melakukan gerakan reflek memeluk Indra. Terlihat ekspresi Indra kaget bercampur senang.

Musik : berubah lebih dinamis diakhiri ID sound simpati diakhiri dengan Efek suara yang mengejutkan

Narasi : di simpati, nelpon sampai menit ke 13 … tetep ½ rupiah perdetik…pake terus dong simpatinya

Sebelum saya membahas tentang body language pada iklan di atas, terlebih dahulu akan membahas tentang kode narasi yang terdapat dalam iklan tersebut. Kode narasi yaitu kode yang mengandung cerita, urutan, aksi, atau anti narasi. Dalam iklan ini, kode narasi terlihat pada kandungan cerita tentang bagaimana angka 13 di dekontruksi maknanya menjadi sebuah angka yang menyenangkan dan menguntungkan.

Selain kode narasi, terdapat kode simbolik terlihat pada adegan 1 frame ke 3, dimana terlihat angka 13 pada kursi sebagai background dari obyek Indra Bekti yang terlihat menunjukkan ekspresi (expressive gesture) ketakutan. Angka 13 sebagai simbol dari mitos sebuah angka ‘horor’ memperkuat ekspresi ketegangan Indra Bekti. Element visual tersebut masih diperkuat dengan ilustrasi musik yang menegangkan, sehingga lebih memberikan penekakan pada suasana yang menakutkan. Suasana ini, kemudian berubah pada adegan 2 dimana eksspresive gesture ketakutan Indra Bekti sangat tidak terbukti. Kedatangan 2 orang wanita yang duduk disampingnya menunjukkan indeks sebuah keberuntungan sekaligus kebahagiaan bagi Indra Bekti. Pada ending adegan 2 terlihat eksspresive gesture Indra Bekti berbalik 100% dari ending adegan 1. Disini, angka 13 sebagai simbol angka ‘horor’ telah terdekontruksi oleh ekspresi kebahagiaan yang tidak disangka-sangka oleh Indra Bekti. Hal ini lebih diperkuat lagi dengan narasi ternyata 13 itu nyenengin !!, yang secara eksplisit meruntuhkan mitos angka 13 itu sendiri.

Dalam iklan ini, expressive gesture sangat mendominasi dari keseluruhan body language. Hal ini dapat terlihat pada adegan 1 yang memperlihatkan expressive gesture yang menakutkan serta menegangkan yang dikarenakan kuatnya mitos angka 13. Sedangkan pada adegan 2, expressive gesture kesenangan dan kebahagiaan sangat dominan. Expressive gesture ini sekaligus mematahkan mitos angka 13 sebagai angka sial. Di akhir adegan 2 terlihat Indra Bekti menggunakan eye rolling gesture yaitu mengerlingkan bola matanya sebagai tanda kesenangan yang klimaks. Sehingga ekspresi tersebut lebih memperkuat dalam hal mendekontruksi mitos angka 13.

Pada adegan 3, iklan mulai masuk pada informasi utamanya, dimana pada 2 buah frame pertama, unsur body language tidak terlihat. Pada ending adegan 3, Indra Bekti dipeluk oleh 2 orang wanita sekaligus, adegan ini sekaligus menujukkan sebuah adegan klimak tentang ‘keberuntungan’ Indra bekti ‘berada’ di angka 13 dan berusaha memperkuat sanggahan akan mitos angka ‘sial’ tersebut.

Dari analisis iklan tersebut dapat disimpulkan bahwa tanda bermakna mendekontruksi sebuah mitos yang telah ‘diyakini’ kebenarannya oleh masyarakat umum.

Semoga bisa dijadikan referensi

INGA….jangan kopi paste ya…..he he…oks

peace bro…

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: